Selasa, 28 Agustus 2012

Perkataan Terakhir Seorang Guru

Ini tentang tokoh anime kesukaan gue.
Pernah gag kalian nonton film anime yang judulnya Naruto??? Yah, maksud gue film kartun dari Jepang yang mengisahkan seorang anak di sebuah desa bernama Konoha yang mempunyai siluman rubah ekor sembilan yang disegel didalam dirinya sama bapaknya sendiri yaitu Yondaime aka Namikaze Minato. Naruto yang sejak kecil sudah hidup sebagai yatim piatu sering kali dikucilkan oleh orang orang disekitarnya. Tapi disini gue bukan mau ngomongin soal Naruto tapi seorang ninja yang menurut gue dialah yang paling terbaik di serial anime ini.
Dia adalah murid dari Sarutobi (hokage keempat),guru dari Minato dan Naruto. Naruto sering kali memanggilnya dengan sebutan "Pertapa Genit" karna sifat mesumnya (mirip2 gue juga sih). Yah, dia adalah Jiraiya Sensei.
Sebagai sannin dia memiliki jutsu yang amat banyak.Saat pertama muncul, dia sudah mengeluarkan Kuchiyose no Jutsu, jurus legenda yang hanya dikuasai beberapa orang.Pengetahuan dan penguasaan atas segel gaib/fuunjitsu juga amat luas, salah satu contohnya ialah ketika dia melepas segel gaib pemberian Orochimaru. Intinya dia hebatlah (biar gag ribet ngejelasinnya)
Pertempuran terakhirnya melawan Pain (dia itu mantan muridnya Jiaraiya juga) dan disitulah kisah terakhir seorang Jiraiya. Adegan ini menurut gue yang paling the best di serial Naruto. Kenapa??
Oke gue jelasin, waktu itu Jiraiya tau kalo dia lagi menghadapi malaikat mautnya sendiri (maksudnya Pain).Coba deh kalian semua bayangin gimana perasaan kalian seandainya kalian tau kalo sebentar lagi kalian bakalan mati ditangan orang yang dulunya orang yang kalian kenal.Padahal masih banyak cita citanya yang belum kesampaian. Yah,cita cita Jiraiya itu adalah menciptakan perdamaian dunia (mirip isi Pembukaan UUD 1945 yah ). Cita citanya ini yang membawa dia sampai ke tempat persembunyian Pain (oh ya,Jiraiya itu ninja pertama yang bisa masuk ketempatnya Pain loh...) Tapi sayangnya dipertempuran melawan Pain dia harus mati.Tapi sebelum mati dia sempet mengatakan sesuatu pada dirinya sendiri (semacam pantomim gitu).Karna gue males jadi gue copas aja deh dari blog Rakha, kira kira dia ngomong kaya gini:


"Apa aku akan mati?  Apa aku gagal?  
Shinobi bukan dilihat dari cara hidupnya tapi kematiaannya…  
Kehidupan shinobi dinilai bukan dari bagaimana menjalaninya tapi dari apa yang sudah dilakukannya. 
Kalau ku ingat lagi, ceritaku penuh kegagalan…  
Ditolak Tsunade 
 Tidak bisa menghentikan teman  
Tidak bisa melindungi murid dan guru  
Kalau dibanding dengan keberhasilan para hokage,…  
Apa yang sudah ku lakukan hanya hal-hal konyol yang tidak berguna  Aku juga ingin mati seperti para hokage pendahulu  
Suatu cerita ditentukan oleh kualitas akhirnya  Kegagalan juga menyenangkan! Aku hidup dengan kepercayaan bahwa cobaan itu berguna untuk menempa diri  
Untuk membayar kegagalanku selama ini, aku akan meraih prestasi luar biasa  
Mati sebagai shinobi hebat!  
Begitulah seharusnya,… 
 Tapi, akhir harus dengan cara seperti ini  Tetua sennin meramalkanku sebagai orang yang akan membimbing pembawa pedamaian  Orang yang akan membuat pilihan besar yang mempengaruhi stabilitas dan kehancuran dunia shinobi  Mengalahkan Pain, menghentikan Akatsuki, dan menyelamatkan dunia shinobi dari kehancuran  Pada akhirnya aku juga gagal dalam pilihan itu…  
Menyedihkan…  
Tak ku sangka, ini akan jadi akhir dari kisah kepahlawanan Jiraiya  
Cerita konyol…      
  “takkan menarik kata-kataku, takkan pernah menyerah” 
 Kalau itu memang jalan ninjamu  Naruto, sebagai gurumu, aku tidak boleh memperlihatkan keraguan  Karena…  
Jalan ninja murid merupakan warisan dan estimasi guru 
 Begitu kan, Naruto???"


Itulah perkataan terakhir Jiraiya si Pertapa Genit..
Sedih sesedih sedihnya..
Hiks,hiks,hiks.. :'(
Air mata gue sempet keluar berkali kali pas ngedengerin adegan ini,sedih rasanya.
Oke,segini aja tulisan gue kali ini.Males gue harus ngetik lama lama, mana tangan udah pegel ditambah pengen buang air. Ah udahlah, malah curcol gini.

Sumber: http://rakha-layfonoir.blogspot.com/2012/03/jiraiya.html