"Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang."
Ini jargonnya Warkop DKI, entah itu Dono, Kasino atau si Indro yang buat. Yang jelas diantara mereka bertiga lah yang bikin itu jargon.
Bukan. Saya tidak sedang membuat sebuah tulisan humor disini. Kalimat diatas sebenarnya sebuah peringatan, lakukanlah apa yang anda bisa lakukan sekarang sebelum terlambat. Seyogyanya, saya ini tipe orang yang "ngapain dikerjain sekarang, kalo besok masih ada waktu lagi?"
Utha Likumahuwa banget yah, hahaha.
Utha Likumahuwa banget yah, hahaha.
Akhir tahun lalu sampai awal tahun ini semangat saya untuk beribadah seperti menghilang. Tidak ada yang khusus, hanya seperti alasan kebanyakan orang, saya malas. Tapi menjelang Minggu Palmarum yang lalu minat saya ke gereja mulai ada lagi. Keadaan disana tidak banyak berubah, jemaat di gereja kami masih beribadah diluar karena bangunan gereja kami disegel. Tidak mendapatkan izin dari pemerintah katanya. Ada sebuah mushola tepat disebelah gereja kami. Aneh. Kami sudah hampir 13 tahun mendirikan gereja di tempat ini, mengurus surat izin pun sudah kami lakukan, semua syarat seperti tanda tangan dan fotokopi KTP sudah kami serahkan tapi tetap tidak mendapat surat izin. Sedangkan mushola di sebelah kami yang baru 3 tahun langsung mendapat izin. Saya tidak memungkiri bahwa akan ada sesuatu yang tidak beres ketika pertama kali melihat sebuah papan yg bertuliskan bahwa akan ada sebuah mushola didirikan di sebelah gereja kami.
Saya tidak akan memperdebatkan siapa dan agama mana yang paling benar. Perbedaan pendapat itu lumrah di negara ini dan harusnya tidak menjadi persoalan. Masjid Istiqlal dan gereja Katedral saja bisa berdampingan. Persoalan surat izin itu hanya dipakai oleh sekumpulan orang (yang merasa) suci untuk menghalangi kami untuk beribadah. Saya jadi ingat dulu bapak saya pernah ditugaskan pihak gereja untuk meminta tanda tangan dari pihak yang memimpin di lingkungan tempat tinggal kami, yah sebut saja beliau Pak RW-lah. Beliau menolak untuk menandatangani surat perizinan tersebut. Beliau beralasan takut jadi masuk Kristen kalo menandatangani surat itu. Imut sekali.
Bapak saya kembali ke rumah. Dia bilang bahwa negara ini lucu, mereka melarang ajaran komunis. Tapi disisi lain ketika ada penduduknya mau beribadah malah dilarang juga. Lah piye toh? Bukannya itu sama saja menyuruh kita untuk menjadi seorang komunis, ujar bapak saya dengan kesalnya.
Sekalipun bangunan gereja kami disegel hampir 3 tahun yang lalu tapi kami tetap bisa beribadah, yah walaupun hanya beralaskan tenda. Dan hari ini adalah hari terakhir kami bisa beribadah di tempat ini. Pemerintah setempat memberikan kami dua pilihan, antara kami dilarang beribadah atau semua gereja disana dilarang beribadah atau semua gereja dikumpulkan di satu tempat dan tetap bisa beribadah. Kebetulan di tempat saya ada 2 gereja lain yang bernasib sama. Saya jadi sadar, mungkin ini adalah sebuah teguran, terutama untuk saya. Saya membenci umat lain karena mereka menyegel gereja kami. Disisi lain, ketika saya bisa beribadah disana, saya malah malas beribadah dengan seribu alasan. Setidaknya, walaupun nanti kami tidak bisa beribadah di tempat ini lagi, kami masih bisa beribadah di tempat lain. Bukankah gereja bukanlah gedungnya atau tempatnya, tapi orangnya. Bangunan bisa disegel, tapi iman tidak.
Dan satu pelajaran yang bisa saya ambil disini: "beribadahlah, sebelum tempat ibadahmu disegel."