Minggu, 08 Februari 2015

KATAK YANG BERGUNA

Minggu, Februari 08, 2015
Ketika anda melewati sebuah jalan, kemudian ditengah jalan itu anda melihat sepuntung rokok atau sepotong sendal jepit, apakah anda akan memungutnya dan membawanya untuk menjadi koleksi kesayangan di rumah anda? Tentu tidak.
Siapa orang bodoh yang mau membawa hal yang tidak bernilai, menyimpannya, lalu memamerkan ke sanak saudara atau teman sejawatnya? Salahkan sistem kapitalisme yang membuat semua orang tidak mau melakukan suatu hal jika hal tersebut tidak berguna baginya. Jika anda berguna, anda adalah emas. Jika tidak, anda tidak lebih dari sampah. Suatu hal yang sama sekali tidak ada gunanya lebih buruk dari sampah.
Baiklah, kali ini saya mau menceritakan sebuah dongeng. Begini...
Dahulu kala, hiduplah seekor katak kecil yang senang sekali melihat bintang di langit. Dia merasa damai ketika ketika melihat benda kecil yang bersinar diatas sana. Dia pun berangan-angan agar suatu hari dia bisa terbang keatas dan bisa melihat bintang-bintang lebih dekat. Dia pun memberi tahu kepada kedua orang tuanya impian nya tersebut. Tapi kedua orang tua berkata supaya lebih baik dia menanggalkan semua impiannya karna mustahil dan menyuruhnya menjadi perenang yang handal supaya dia bisa mengelilingi samudera luas dan menjadi penguasa lautan. Anak katak tersebut berpikir, bukankah hal itu juga mustahil. Tetapi kedua orangtua nya tetap memaksakan kehendak mereka yang membuat sang anak katak tersebut terpaksa menuruti keinginan mereka. Sang anak terus berlatih renang, walaupun hatinya menolak. Hingga suatu hari sang anak katak tersebut mencoba mengarungi lautan, tapi karena dia bukan perenang yg handal di lautan, dia pun akhirnya tenggelam menuju ke dasar lautan.
Yah, saya tahu. Itu benar-benar cerita yang membosankan. Saya akui, saya memang storyteller yang buruk. Cerita yang buruk yang terinspirasi dari kisah nyata yang buruk. Suram. Sesuram akhir hidup Jiraiya si Pertapa Katak. Seorang guru dari dua orang jenius dan satu orang bodoh tapi tidak mau menyerah. Berpikir bahwa dia akan mengubah dunia tapi akhirnya mati sebelum dia melihat dunia impiannya. Nasibnya jauh lebih buruk dari kisah hidup Musa yang beruntung masih diperkenankan melihat Tanah Perjanjian dari jauh sebelum mati.
Saya merasa beruntung bahwa kenyataannya saya masih diberi pikiran, walaupun saya jarang memakainya. Dan kalau saya pikir-pikir, sebetulnya kisah hidup Jiraiya tidak sesuram yang saya pikirkan sebelumnya. Setidaknya dia bisa melakukan hal berguna, yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh karater anime lainnya. Dia membuat keputusan yang tepat di menit-menit akhir hidupnya, yang membuat suatu perubahan baru di dunianya. Dia juga berhasil menjadi inspirasi buat si murid bodohnya yang akhirnya berhasil menciptakan dunia yang damai. Kegagalan hidup Jiraiya itu inspirasinya.
Akhir tahun lalu saya diberi tugas oleh dosen untuk membuat sebuah tulisan tentang sistem basis data. Awalnya saya kebingungan ingin membuat tulisan apa dan terlintas ingin melakukan hal nan keji yang biasa dilakukan mahasiswa bodoh di semesta alam ini. Copas dari google.
Kemudian terlintas di pikiran saya, lebih baik saya tulis saja kisah kegagalan hidup saya di masa lalu menjadi sebuah jurnal basis data. Sebuah sistem basis data yang berkenaan dengan dunia pelayaran. Setelah saya menyelesaikan tugas saya, saya baca ulang. Saya berhasil membuat 5 lembar halaman, sudah termasuk cover. Jika dibanding dengan tugas teman-teman saya yang lain yang berhasil membuat sampai dengan 20 lembar bahkan ada yang lebih, lengkap dengan desain diagram yang apik, yang bila dibandingkan dengan desain diagram yang saya buat hanya dengan Ms. Paint, saya merasa bahwa tugas saya seperti pekerjaan anak SD. Suram sekali.
Lalu dosen bertanya satu persatu ke mahasiswa tentang model sistem yang mereka buat. Banyak juga yang kebingungan menjawabnya. Mungkin karena saking ribetnya tulisan mereka, atau mereka tidak sempat membaca ulang hasil copas mereka dari google. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu, karena buat saya itu tidak ada gunanya. Saya hanya tertawa melihat ekspresi ketakutan teman-teman saya ketika ditanya dosen, seolah-olah seperti ditanya malaikat maut. Apa agamamu? Siapa Tuhanmu? Apa makanan favoritmu?*halah*
Saya beruntung, tulisan saya sederhana, masih berkaitan tentang pengalaman masa lalu saya, dan hanya 5 lembar sehingga saya tidak kesulitan mengingat satu persatu kalimat didalamnya. Dengan mudah saya menjawab pertanyaan dosen, tapi hanya satu pertanyaan dosen yang membuat saya kesulitan untuk menjawabnya. "Kenapa kamu dulu berhenti dari bidang itu, sia-sia dong 4 tahun kamu belajar disana?" Saya diam dan tidak menjawabnya. Saya merasa ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan dosen saya waktu itu. Saya sudah menyia-nyiakan semua hal di masa lalu saya. Saya gagal membuat keputusan di masa lalu. Sepertinya semua yang saya buat di masa lalu hanyalah hal yang tidak berguna.
Tapi tunggu dulu.
Saya rasa hal yang tidak berguna sebetulnya ada gunanya. Masalahnya, kita kadang susah melihat dari sisi sebelah mananya itu hal ada gunanya. Maksudnya begini, semua hal berguna, tugas kita adalah melihat dimana letak kegunaan hal tersebut lalu berhentilah mengeluh tentang kesialan masa lalu. Bagian terakhir sepertinya agak berlebihan. Baiklah, saya perbaiki. Boleh mengeluh, tapi jangan kebanyakan. Itu akan membuat keriput di jidat anda dan wajah anda menjadi tampak lebih tua.
Diakhir semester saya melihat KHS saya. Saya terkejut, tugas saya tadi mendapat nilai A dari dosen. Saya bingung, bagaimana bisa tugas yang seperti dikerjakan anak SD, dikerjakan hanya dua jam sebelum masa liburan akhir tahun berakhir, dan hanya 5 lembar sudah termasuk cover, bisa mendapat nilai A??? Mungkin dosen saya hanya kasihan melihat tugas saya yang sedemikian menyedihkannya, atau tugas saya tadi berhasil membuat dia tertawa lepas seolah-olah itu adalah tertawanya yang paling bahagia selama hidupnya. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi saya jadi teringat akan pertanyaan dosen yang belum sempat saya jawab. Sekarang saya mendapatkan jawabannya.
Tidak pak, itu semua tidak sia-sia. Nilai A dari anda itu jawabannya.
Dan kenyataan bahwa bukan dari Injil saya belajar, tapi dari kisah Jiraiya sang Pertapa Katak. Bukan karena saya benci agama, saya hanya tidak dekat dengan Tuhan. Bukan karena Dia yang menjauh, tapi karena saya suka asyik mengeluh dan lupa diri. Tapi kali ini Sang Pencipta memberikan saya dua pilihan, apakah saya ingin menjadi burung yang bebas terbang ke langit atau katak yang tenggelam di dasar lautan? Saya memilih menjadi katak yang tenggelam di dasar laut karena kebebasan akan membuat saya menjadi lupa diri. Nilai kehidupan seseorang tidak diukur seberapa banyak yang dia miliki, tapi dari apa yang dia buat sebelum dia mati. Bermimpi menjadi seorang ahli mesin, disuruh menjadi pendeta tapi menolak dengan alasan saya bukan orang yang dekat dengan Tuhan dan munafik sekali rasanya kalau saya menjadi penginjil hanya karena takut kelaparan, lalu dipaksa menjadi pelaut dan berakhir dengan kegagalan. Kegagalan hanya akan dilihat sebagai hiburan bagi orang lain, tetapi itu juga mengasah kita menjadi lebih baik dan sesuatu yang berguna. Kalaupun tetap tidak berguna, setidaknya anda bisa bersyukur bahwa hidup anda lebih berguna setelah membandingkan dengan hidup saya yang tidak berguna.
Tapi saya berharap, suatu hari nanti saya bisa berbuat sesuatu yang bisa menebus semua kesalahan saya di masa lalu, sebelum akhirnya saya tenggelam ke dasar lautan nanti.
Semoga.





Daniel Siahaan
Pernah Gagal Membuat Pilihan